Dalam acara “Nurkholis Madjid: Memorial Lecture IV” yang diadakan oleh Paramadina, Karlina Supelli, sebagai pembicara tunggal, mengajukan sebuah pendekatan epistemologis untuk lebih memahami dan mengakui ciri antropologis setiap bentuk pengetahuan. Pendekatan itu ditujukan sebagai refleksi sekaligus gugatan terhadap kecenderungan pemutlakan pengetahuan, terutama dengan semakin menguatnya gejala fanatisme dan ektremisme yang memberangus toleransi dalam masyarakat yang pluralis. Dengan gayanya yang tenang dan tegas, dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu mampu memukau para peserta meski yang dijelaskannya berupa konsep-konsep rumit dalam perkembangan ilmu pengetahuan.


Kajian Kosmologi

Mengawali pembahasannya, Karlina Supelli menggunakan kajian kosmologi sebagai contoh bentuk pencarian tertua manusia untuk memahami dunia, kehidupan dan batas-batas pengetahuan. Hingga saat ini, meski banyak hal yang telah dicapai para ilmuwan, masih terdapat ruang ketakpastian yang tak tersentuh ilmu pengetahuan. Belum ada teori yang mampu menggambarkan kondisi gravitasi alam semesta yang seluruh materi-materinya terciutkan ke skala subatom (10-34 cm). Ilmuwan menamakannya “singularitas”. Singularitas terbentuk ketika semua persamaan matematis mencapai kondisi ‘tak terdefinisikan’, seperti tejadi bila sebuah bilangan dibagi dengan nol. Kosmolog tak dapat memutuskan apakah singularitas merupakan batas konseptual atau batas ruang-waktu. (Karlina Supelli, Ciri Antropologis Pengetahuan: 3)


Selain itu, Karlina Supelli juga mengajukan kesimpulan kosmolog tentang isi alam semesta yang sudah diketahui berdasarkan data agihan materi-energi skala besar yang terkumpul dalam beberapa tahun terakhir:

  • 5% kandungan alam semesta adalah materi-energi konvensional yang dapat diamati melalui berbagai panjang-gelombang. 
  • 23% adalah materi gelap dingin (cold dark matter) yang berasal dari dugaan-dugaan yang dapat diprediksi dan dibuktikan meski wujud konkretnya masih belum diketahui. 
  • 72% adalah energi gelap (dark energy) yang merujuk pada sesuatu yang sama sekali belum diketahui alias misteri. (Supelli, CAP: 4) 
Untuk mengisi kekosongan pengetahuan tentang alam semesta, kosmolog menggunakan hipotesis energi gelap. Energi gelap merupakan daya dorong yang dibutuhkan untuk menjelaskan percepatan gerak pemuaian kosmos, yang indikasinya terlihat dalam gerak supernova (Supelli, CAP: 4). Meski wujudnya masih menjadi misteri, namun energi gelap tetap dibutuhkan untuk menjelaskan gejala yang teramati.

Dari sinilah kesenjangan antara data dan teori tak mudah didamaikan; tak ada jembatan yang secara logis menghubungkan gejala dengan prinsip-prinsip teoritis; tak ada lintasan langsung dari nalar menuju asas-asas dasar alam semesta. Karena itulah kosmologi membangun ‘model alam semesta’ bukan hanya bertujuan menafsirkan data-data astronomis, tapi juga bertujuan membuat alam semesta sebagai suatu keseluruhan (totalitas materi-energi) dapat dipahami melalui teori-teori fisika dan nalar matematis (Supelli, CAP: 6). Sebab kosmolog menyadari bahwa alam semesta teramati (observable universe) bukanlah batas fisik keseluruhan alam semesta.

Hampir semua ilmuwan dari berbagai bidang mengalami kesulitan dalam memaparkan data empiris. Bahasa teoritis tak sepenuhnya dapat dialihkan ke bahasa empiris, sehingga ilmuwan mencoba mengatasi kendala epistemik itu dengan mengajukan postulat dan asumsi untuk membatasi peluang model. Postulat merupakan pengandaian yang diterima benar dengan sendirinya (Supelli, CAP: 7). Postulat dan asumsi merupakan landasan yang tak mungkin ditanggalkan dalam ilmu pengetahuan. Di sinilah terletak ciri antropologis pengetahuan. Namun banyak ilmuwan penerus yang cenderung memperlakukan teori seolah-olah bebas asumsi, bahkan lebih parah lagi sebagai entitas nyata (Supelli, CAP: 7). Kecenderungan itulah yang menghasilkan dogmatisasi pengetahuan dengan menghilangkan ciri antropologisnya.

Imajinasi, Tilikan dan Realitas

Corak antropologis berupa praduga metodologis, yang didasarkan pada intuisi, sering digolongkan sebagai elemen subjektif pengetahuan. Kata ‘subjektif’ bisa berarti negatif bila mengacu pada sebatas opini tanpa landasan objektif. Namun, seperti dijelaskan sebelumnya, elemen subjektif atau personal juga bisa mengacu pada daya kreatif manusia dalam melampaui keterbatasan penginderaannya yang terkendala ruang-waktu. Pengetahuan adalah hasil konstribusi imajinasi tarhadap apa yang dicerap dalam pengalaman inderawi (Supelli, CAP: 8). Imajinasi dan tilikan secara sentral memerantarai sintesis antara persepsi terbatas dan kemungkinan untuk melampauinya. Misalnya, matematika menandai bagaimana lompatan imajinasi dan tilikan berujung pada koherensi pemahaman, dan bagaimana koherensi itu memperoleh pengungkapan dalam simbol (Supelli, CAP: 10). Di sinilah imajinasi dan tilikan menjadi daya sentral manusia untuk mengetahui dan memahami realitas.

Meski imajinasi dan tilikan mencapai pengetahuan melalui pendekatan konstruktif-empiris, bukan berarti ilmu pengetahuan hanya berisi konstruksi pikiran. Ilmu pengetahuan tak pernah mengabaikan realitas yang ingin ditangkap oleh teori-teorinya (Supelli, CAP: 12). Ilmu pengetahuan menjadi mungkin ketika ilmuwan sanggup membangun imajinasi, menggunakan intuisi dan tilikan dari beragam pengalamannya, tanpa terpenjara dalam keketatan metode ilmiah, tapi tetap setia pada komitmen empirik, koherensi konseptual, dan keberanian merasa (Supelli, CAP: 18). 


Dari penjelasan itulah kita dapat membedakan antara konsep atau model realitas dan Realitas sesungguhnya. Kita hanya bisa mengetahui dan memahami Realitas melalui model realitas, tapi tak pernah bisa menjangkau keseluruhan yang muncul sebagai misteri. Akhirnya, Karlina Supelli menulis di akhir makalahnya: ketika kita memberi nama pada Realitas itu, kita hanya menandai apa yang tak tertampung di dalam tanda itu. Apa pun tanda yang kita pilih segera akan dikaburkan oleh Dia yang tak dapat ditandai (Supelli, CAP: 20).