Tak mudah untuk memahami kota. Sebab kota berada di luar pemahaman
manusia. Kota menyimpan beragam kemungkinan yang tak mungkin sepenuhnya
bisa diidentifikasi. Tak seperti pengamatan orang yang meninjau kota
dari luar (panopticon), yang menganggap kota mampu dipahami secara jelas
dan menyeluruh, padahal banyak unsur-unsur kecil yang tanpa disadari
turut membentuk kota dan tak bisa ditangkap hanya melalui pandangan
sekilas dari luar. Dalam hal inilah, melalui berbagai penelitiannya,
AbdoulMaliq Simone mencoba menelusuri sisi-sisi kota yang banyak
diabaikan oleh orang yang hanya meninjau kota dari luar, yang sebenarnya
terpenjara atau hanya menonton kota dari atas menara.
AbdoulMaliq Simone menyatakan bahwa kota tak
menyediakan seperangkat prinsip atau mekanisme tetap untuk diterapkan
pada setiap orang. Kota bergerak secara luwes dan berpotensi berubah
terus menerus. Karena itulah penulis buku “City Life from Jakarta to
Dakar: Movements at the crossroads” itu menekankan pentingnya terus
meninjau ulang, mengimajinasikan ulang, dan menegosiasikan ulang pola
hidup yang dijalani bersama. Di sinilah masyarakat kota tertantang dan
tertuntut untuk terus menerus mengembangkan beragam kemampuan terkait
dengan bidang yang digelutinya masing-masing.
Begitu pula dengan Goenawan Muhammad yang memulai pembahasannya dengan
mempertanyakan makna moralitas. Menurutnya, sebagai tatanan normatif,
moralitas terdiri dari sistem pemaknaan yang berkembang secara politis.
Berbeda dengan “The Ethical”, sebagai pembebasan dari setiap bentuk
justifikasi definitif, yang menyimpan penghargaan terhadap keberlainan
(The Otherness) dan bermakna lebih universal. Bahkan tatanan normatif
terstruktur yang dipaksakan untuk diterapkan, meski sekilas nampak
membawa kestabilan dan ketentraman, sebenarnya termasuk bentuk
kekerasan. Karenanya, terjadinya konflik antarindividu atau golongan
merupakan kondisi yang sehat bagi tatanan sosial untuk menghindari
terjadinya kekerasan struktural yang lebih besar.



0 Komentar