Dianggap sebagai rasionalis terakhir, seperti dikatakan McCarthy, Habermas tampil gigih  membela pentingnya membangun rasionalitas dalam dunia modern, meski ia juga mengkritik gaya berpikir yang berkembangn dalam filsafat Barat, terutama rasio praktis kant. Menurutnya, pemikiran imperatis kategoris yang diajukan Kant menggiring terbentuknya subjek monologal yang hanya mampu mengklaim kebenaran pada dirinya sendiri secara otonom dan tak tergantung pada konteks sosialnya. Dalam hal ini imperatif kategoris mengandung kecenderungan absolutis. Dalam hal ini pula imperatif kategoris gagal membuka dialog dengan subjek-subjek lainnya.

Dewasa ini, kebangkrutan rasio pratis tersebut banyak dipersoalkan. Namun berbeda dengan pemikir pascamodernis yang menolak rasio sebagai basis pemikiran, Habermas tetap memercayai dan mengajukan konsep rasio komunikatif untuk mengatasi kebangkrutan filsafat modern itu. Menurutnya, rasio komunikatif mampu membangun etika politik melalui intersubjektivitas. Selalu ada ide normatif yang diterima secara intersubjektif, seperti keadilan, yang mampu menjamin dan memeriksa terbentuknya komunikasi dalam ruang publik.



Kuliah filsafat yang disampaikan F. Budi Hardiman pada malam itu mampu memancing peserta untuk bertanya dalam forum diskusi. Banyak peserta yang bertanya tentang pemikiran Habermas yang dianggap masih abstrak. Selain memberikan contoh-contoh kongkrit bagaimana pemikiran Haberbas masih relevan diterapkan dalam ruang publik, Budi Hardiman juga mengakui dan memberikan catatan kritis yang pernah ditulis dalam bukunya “Demokrasi Deliberatif”.